MATERI 5 : RUBRIK PENILAIAN ASPEK AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR


RUBRIK PENILAIAN ASPEK AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep
diri, nilai, dan moral.
1.                 Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, da sebagainya.
2.             Minat
Menurut Getzel , minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian ata pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. Penilaian minat dapat digunakan untuk:
a. mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran, b. mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
c. pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
d. menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
e. mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
3.             Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. Penilaian konsep diri, penilaian diri adalah sebagai berikut:
·         Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
·         Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
·         Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
·         Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
·         Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
·         Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik
·          Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
·         Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
·         Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
·         Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
·         Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
·         Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
·         Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
·          Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
·         Peserta didik mampu menilai dirinya
·         Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
·         Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
4.             Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
5.              Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran resporespon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

Ranah afektif lain yang penting adalah:
Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.

Pengukuran Ranah Afektif
Dalam memilih karakterisitik afektif untuk pengukuran, para pengelola pendidikan harus mempertimbangkan rasional teoritis dan program sekolah. Masalah yang timbul adalah bagaimana ranah afektif akan diukur. Isi dan validitas konstruk ranah afektif tergantung pada definisi operasional yang secara langsung mengikuti definisi konseptual. Menurut Andersen ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif, yaitu metode observasi dan metode laporan diri.
Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologi. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri.
Menurut Lewin (dalam Andersen, 1980), perilaku seseorang merupakan fungsi dari watak (kognitif, afektif, dan psikomotor) dan karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan. Jadi tindakan atau perbuatan seseorang ditentukan oleh watak dirinya dan kondisi lingkungan.

Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif
Instrumen penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif, yaitu:
1. menentukan spesifikasi instrumen
2. menulis instrumen
3. menentukan skala instrumen
4. menentukan pedoman penskoran
5. menelaah instrumen
6. merakit instrumen
7. melakukan ujicoba
8. menganalisis hasil ujicoba
9. memperbaiki instrumen
10. melaksanakan pengukuran
11. menafsirkan hasil pengukuran


Spesifikasi instrumen
1.                 Instrumen sikap
Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya terhadap kegiatan sekolah, mata pelajaran, pendidik, dan sebagainya. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.
2.              Instrumen minat
Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran, yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran.
3.              Instrumen konsep diri
Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan
4.             Instrumen nilai
Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan.
5.              Instrumen moral
Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap moral. Informasi moral seseorang diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral seseorang.

Contoh – contoh rubrik penilaian aspek afekti dan psikomotor

-        Penilaian Diri
Seiring dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru kepada peserta didik, maka peserta didik diberikan kesempatan untuk menilai kemampuan dirinya sendiri. Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai, kemudian menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan, dan merumuskan format penilaiannya Jadi, singkatnya format penilaiannya disiapkan oleh guru terlebih dahulu. Berikut Contoh format penilaian :
No
Pernyataan
Ya
Tidak
Jumlah Skor
Skor Sikap
Kode Nilai
1
Selama diskusi, saya ikut serta mengusulkan ide/gagasan.
50

250
62,50
C
2
Ketika kami berdiskusi, setiap anggota mendapatkan kesempatan untuk berbicara.

50
3
Saya ikut serta dalam membuat kesimpulan hasil diskusi kelompok.
50

4
...
100


Catatan :
1.   Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50
2.  Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 4 x 100 = 400
3.  Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (250 : 400) x 100 = 62,50
4.  Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00      = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00        = Baik (B)
25,01 – 50,00        = Cukup (C)
00,00 –  25,00      = Kurang (K)
5.  Format di atas dapat juga digunakan untuk menilai kompetensi pengetahuan dan keterampilan


-        Penilaian Teman Sebaya
Penilaian ini dilakukan dengan meminta peserta didik untuk menilai temannya sendiri. Sama halnya dengan penilaian hendaknya guru telah menjelaskan maksud dan tujuan penilaian, membuat kriteria penilaian, dan juga menentukan format penilaiannya. Berikut Contoh format penilaian teman sebaya :

Nama yang diamati    : ...
Pengamat                       : ...

No
Pernyataan
Ya
Tidak
Jumlah Skor
Skor Sikap
Kode Nilai
1
Mau menerima pendapat teman.
100

450
90,00
SB
2
Memberikan solusi terhadap permasalahan.
100

3
Memaksakan pendapat sendiri kepada anggota kelompok.

100
4
Marah saat diberi kritik.
100

5
...

50

Catatan :
1.   Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50 untuk pernyataan yang positif, sedangkan untuk pernyataan yang negatif, Ya = 50 dan Tidak = 100
2.  Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 5 x 100 = 500
3.  Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (450 : 500) x 100 = 90,00
4.  Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00      = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00        = Baik (B)
25,01 – 50,00        = Cukup (C)

00,00 –  25,00      = Kurang (K)


 Keterampilan
-        Penilaian Unjuk Kerja
-        Instrumen Penilaian Diskusi
No
Aspek yang Dinilai
100
75
50
25
1
Penguasaan materi diskusi




2
Kemampuan menjawab pertanyaan




3
Kemampuan mengolah kata




4
Kemampuan menyelesaikan masalah





Keterangan :
100        = Sangat Baik
75          = Baik
50          = Kurang Baik
25          = Tidak Baik


PERMASALAHAN :
1. Keterbatasan waktu dan padatnya materi kimia membuat guru kadang men-skip penilaian afektif dan psikomotor pada 1 materi dalam 1 kali pertemuan 2x45menit, guru hanya fokus pada penilaian kognitif saja. bagaimana saran yang Anda berikan sebagai seorang guru yang mungkin bisa saja mampu melakukan penilaian secara keseluruhan dengan terbatasnya waktu jam pelajaran dan ketiga aspek yang wajib dinilai terisi secara objektif selesai saat jam pelajaran itu juga?

2. Menurut Andersen ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif, yaitu metode observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologi. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri. bagaimanakah guru mensiasati atau menilai bahwa siswa ini benar jujur dalam melampirkan laporan dirinya? meningat  yang mengetahui keadaan afektif siswa adalah dirinya sendiri jika berpedoman pada metode penilaian diri.

Comments

  1. saya akan menjawab pertanyan kedua yakni bagaimana mengetahui bahwa hasil yang didapat dari penilaian afektif (self assessment) objektif? menurt saya kita mengetahui objektif atau jujur tidaknya siswa dalam menilai yakni dengan melakukan comparing/menilai silang/triangulasi, baik itu dari hasil observasi, peer assessment maupun self assessment. jika ketiga-tiganya menunjukkan kecenderungan kesamaan jawaban maka bisa dikatakan hasil penilaian tsb sudah cukup objektif. karena pada dasarnya penilaian afektif siswa itu haruslah berbarengan antara penilaian berbasis observasi dengan penilain diri siswa itu sendiri. sebenarnya balik lagi ke cara/ trik gurunya dalam menyusun rubrik penilaian dan pelaksanaan penilaian. (tergantung kreativitas, kebutuhan, spesifikasi penilaian).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju dengan kk rini. Bahwa dengan melakukan triangulasi data. Saya ingin menambhkan untuk membantu melihat kejujuran siswa dlm mnilai yaitu dngan penilaian teman dan kemudin dibantu dengan jurnal guru harian selama proses pembelajarann.

      Delete
    2. sependapat dengan teman-teman untuk membantu melihat kejujuran siswa dalam menilai dirinya sendiri itu dapat dilakauakn dengan cara malakukaan analaiasterhadap beberapa data yang kita peroleh dapat dari penialian dirinya sendiri, dari teman, dan dari jurnal harian guru dengan melihat keseharian siswa selama proses pembelajarannya

      Delete
    3. pertanyan kedua yakni bagaimana mengetahui bahwa hasil yang didapat dari penilaian afektif (self assessment) objektif?

      sependapat dengan teman-teman untuk membantu melihat kejujuran siswa dalam menilai dirinya sendiri itu dapat dilakauakn dengan cara malakukaan analaias terhadap beberapa data yang kita peroleh dapat dari penialian dirinya sendiri, dari teman, dan dari jurnal harian guru dengan melihat keseharian siswa selama proses pembelajarannya
      Dengan demikian hasil yang didapat dari penilaian afektif (self assessment) sesuai dwngan kenyataannya.

      Delete
  2. menjawab pertanyaan pertama, menurut saya agar penilaian afektif dan psikomotor bisa dilaksanakan saat itu juga maka guru bisa meminta guru / orang lain untuk menilai siswa dengan instrumen yang sudah guru buat. atau guru bisa memvideokan proses pembelajaran dari berbagai sudut untuk tambahan dalam penilaian kalau" ada penilaian yang tidak terlihat oleh guru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sependapat dengan Rina bahwa agar penilaian afektif dan psikomotor bisa dilaksanakan saat itu juga maka guru yang bersangkutan bisa meminta bantu guru lain untuk menilai siswa dengan instrumen yang sudah dibuat. atau guru bisa memvideokan proses pembelajaran dari berbagai sudut untuk tambahan dalam penilaian seandainya ada penilaian yang luput dari pengamatan guru yang bersangkutan.

      Delete
    2. saya sependapat dengan rina dan kak nelly, agar penilaian afektif dan psikomotor bisa dilaksanakan saat itu juga maka guru bisa meminta guru / orang lain untuk menilai siswa dengan instrumen yang sudah guru buat. atau guru bisa memvideokan proses pembelajaran. dan juga guru bisa membuat diary pembelajaran setelah pembalajan dengan cara mengingat kembali pembelajaran yang telah terlaksana.

      Delete
  3. bagaimanakah guru mensiasati atau menilai bahwa siswa ini benar jujur dalam melampirkan laporan dirinya?

    Ada 3 tingkatan kejujuran:
    a. Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realiti.
    b. Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
    c. Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah.

    Segala sesuatu bila dibiasakan, niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan. Entah itu yang baik atau pun yang buruk. Membiasakan diri untuk selalu jujur, walaupun dalam hal yang dalam pandangan kita kecil, akan membuat kejujuran menjadi kebiasaan kita. Jangan meremehkan hal yang kecil, sebab sesuatu yang besar bermula dari yang kecil.

    Oleh karena itu, seorang guru harus bisa menjadi teladan bagi siswanya. Jika seorang guru ingin membangun karakter jujur pada anak didiknya, maka karakter jujur itu harus terbiasa muncul dulu pada guru tersebut.

    Kebiasaan memberikan stimulus berupa sikap kritis guru terhadap permasalahan siswa, reward dan punishment yang diberikan guru, tentunya akan memunculkan respon siswa untuk tidak berusaha bohong terhadap permasalahannya, karena siswa tersebut sering mengalami pengalaman bahwa kejujuran pastilah yang menang dan untung, sedangkan kebohongan pastilah akan kalah dan merugi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan pendapat kk rahmah,
      Ada 3 tingkatan kejujuran:
      a. Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realiti.
      b. Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
      c. Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah.
      serta guru membeikan intuisi dan insting sendiri dalam menentukan kejujuran siswa

      Delete
    2. saya sependapat dengan kk wiwid dan tri bahwasannya
      Ada 3 tingkatan kejujuran:
      a. Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realiti.
      b. Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
      c. Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Tuhan

      Delete
  4. Keterbatasan waktu dan padatnya materi kimia membuat guru kadang men-skip penilaian afektif dan psikomotor pada 1 materi dalam 1 kali pertemuan 2x45menit, guru hanya fokus pada penilaian kognitif saja. bagaimana saran yang Anda berikan sebagai seorang guru yang mungkin bisa saja mampu melakukan penilaian secara keseluruhan dengan terbatasnya waktu jam pelajaran dan ketiga aspek yang wajib dinilai terisi secara objektif selesai saat jam pelajaran itu juga?
    .
    Kalau saran saya sebaiknya penilaian aspek kognitif dan psikomotor itu dibuat instrumen penilaian diri sendiri dan antar teman sedangkan guru hanya mencatat jurnal ibaratkan perilaku siswa yang terlihat paling menonjol di pertemuan itu. Jadi, kerja guru tidak terlalu berat dan penilaian pun dapat terlaksana dengan baik dengan keautentikan siswa yang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sependapat dengan kak fanny, sebaiknya untuk mengefektifkan waktu dengan membuat instrumen penilaian diri sendiri dan antar teman.

      Delete
    2. penilaian diri dan antar teman dikhawatirkan akan ada kongkalikong diantar murid. mereka tidak objektif menilai temannya, begitu juga sebalik nya. menuru saya guru tetaplah harus punya catatan tersendiri terkait siswa-siswanya.

      Delete

Post a Comment