MATERI 3 : HOW TO ASSESS HIGHER ORDER THINKING SKILLS IN YOUR CHEMISTRY CLASS
BAGAIMANA CARA MENILAI KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DI KELAS KIMIA
Keterampilan berpikir tingkat
tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thingking Skills (HOTS) pada
Taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkatan berpikir (kognitif) dari tingkat
rendah ke tinggi. Pada ranah kognitifnya, HOTS berada pada level analisis,
sintesis dan evaluasi. HOTS pertama kali dimunculkan pada tahun 1990 dan
direvisi tahun 1990 agar lebih relevan digunakan oleh dunia pendidikan abad
ke-21. HOTS versi lama berupa kata benda yaitu: Pengetahuan, Pemahaman,
Terapan, Analisis, Sintesis, Evaluasi. Sedangkan HOTS setelah direvisi menjadi
kata kerja: Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan
Mencipta. HOTS
(Higher Order Thinking Skill) adalah Kemampuan berpikir
yang tidak sekadar mengingat, menyatakan kembali, atau merujuk tanpa
melakukan pengolahan. Adapun
karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
1.
Mengukur kemampuan berpikir
tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau
pengetahuan.
2. Berbasis
permasalahan kontekstual
3. Menggunakan
bentuk soal beragam.
Soal-soal
HOTS merupakan instrumen pengukuran
yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu
kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate),
atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).
Soal-soal HOTS pada konteks asesmen
mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan
menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang
berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5)
menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang
berbasis HOTS tidak berarti soal yang
lebih sulit daripada soal recall.
Dilihat
dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif,
tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural
saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep
yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving),
memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru,
berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
Dimensi
proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh
Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui
(knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3),
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan
indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai
contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3.
Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada
pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului
dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu
peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi)
bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru.
Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses
berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Pada
penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus.Stimulus merupakan dasar
untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya
bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global
seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan
infrastruktur.
Stimulus juga dapat diangkat dari
permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan
seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang
terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi
kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.
Keterampilan berpikir
tingkat tinggi dalam kimia
Berfikir
Kritis dalam kimia adalah berfikir
yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau
masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan
menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan
pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak
dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang
diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam
sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir
kritis. Misalnya siswa melakuakan percobaan mengenai materi asam basa,
dengan bahan air jeruk dan air sabun. Dari percobaan siswa diharapkan dapat
menentukan karakteristik asam basa dari kedua bahan yang digunakan berdasarkan
hasil percobaan yang didapat dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah
diperoleh pada pembelajaran sebelumnya. Siswa
dapat menilai bahwa air jeruk adalah salah satu contoh asam dan air sabun
adalah contoh dari basa. Hal ini dapat diketahui dari sifat air jeruk yang
dapat mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah dan mengubah warna kertas
lakmus merah menjadi biru dari hasil percobaab yang telah dilakukan.
Berfikir
Kreatif dalam kimia
sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari
keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang
dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik
kesimpulan yang biasanya menghasilkan akhir yang baru. Misalnya, dalam
praktikum menentukan suatu senyawa asam ataupun senyawa basa, siswa dapat
membuat indikator alami dari ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai pengganti
indikator sintesis yang ketersediaannya terbatas.
Pemecahan masalah
dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan
mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya
mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi.
Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan
mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan
menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan
ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian
dari keterampilan berfikir kritis.
Menyimpulkan konsep
dalam kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari
keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang
dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik
kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
DIMENSI PROSES KOGNITIF HOTS
Menganalisis dalam kimia
Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu
informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan
keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi
menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.
Mengevaluasi dalam kimia
Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan
suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).
Mencipta atau menyusun konsep dalam kimia
Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil
tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan
untuk membentuknya.
TEKNIK PENULISAN BUTIR HOTS DALAM
KIMIA
-
Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan
untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
-
Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan
diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
-
Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau
kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya
dengan kimia.
-
Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam
data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang
dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk
menjawab soal-soal HOTS.
-
Berbagai macam data kimia yang disediakan seharusnya
memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga
dapat diolah lebih lanjut.
-
Menulis contoh soal HOTS tentang kimia.
KARAKTERISTIK HOTS
1. Mengukur
kemampuan berpikir tingkat tinggi
The Australian Council for Educational
Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan
proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan
konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat
tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.Dengan
demikian, jawaban soal-soal HOTS
tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus.
Kemampuan
berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir
kritis (critical thinking), berpikir
kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil
keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah
satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap
peserta didik.
Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang
tidak familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan
untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang
berbeda dengan cara-cara sebelumnya.
‘Difficulty’ is NOT same as higher order
thinking. Tingkat kesukaran
dalam butir soal tidak sama dengan
kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah
kata yang tidak umum (uncommon word)
mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk
menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.Dengan
demikian, soal-soal HOTS belum tentu
soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran
yang tinggi.
Kemampuan
berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh
karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka
proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk
menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran
dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
2. Berbasis
permasalahan kontekstual
Soal-soal
HOTS merupakan asesmen yang berbasis
situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan
dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan
masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini
terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam
pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk
menghubungkan (relate),
menginterpretasikan (interprete),
menerapkan (apply)dan
mengintegrasikan(integrate) ilmu
pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam
konteks nyata.
Berikut ini diuraikan lima karakteristik
asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks
pengalaman kehidupan nyata.
b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery),
dan penciptaan (creation).
c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta
didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan
yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta
didik untuk mampu mengomunikasikan
kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta
didik untuk mentransformasi konsep-konsep
pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.
Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis
pada asesmen autentik, adalah sebagai berikut.
a. Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri,
bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
b. Tugas-tugas merupakan tantangan yang
dihadapkan dalam dunia nyata;
c. Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya
memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban
benar atau semua jawaban benar.
3. Menggunakan
bentuk soal beragam
Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah
perangkat tes (soal soal HOTS)
sebagaimana yang digunakan dalam PISA,
bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh
tentang kemampuan peserta tes. Hal ini penting diperhatikan oleh guru agar
penilaian yang dilakukan dapat menjamin prinsip objektif.Artinya hasil
penilaian yang dilakukan oleh guru dapat menggambarkan kemampuan peserta didik
sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.Penilaian yang dilakukan secara
objektif, dapat menjamin akuntabilitas penilaian.
Terdapat beberapa alternatif bentuk soal yang
dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS
(yang digunakan pada model pengujian PISA),
sebagai berikut.
a.
Pilihan ganda
Pada umumnya soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata.Soal
pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem)
dan pilihan jawaban (option).Pilihan
jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling
benar.Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang
terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahannya/materi pelajarannya
dengan baik.Jawaban yang diharapkan (kunci jawaban), umumnya tidak termuat
secara eksplisit dalam stimulus atau bacaan. Peserta didik diminta untuk
menemukan jawaban soal yang terkait dengan stimulus/bacaan menggunakan
konsep-konsep pengetahuan yang dimiliki serta menggunakan logika/penalaran.
Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
b.
Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau
ya/tidak)
Soal bentuk pilihan ganda kompleks bertujuan
untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara
komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang
lainnya.Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang berbentukpilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang
bersumber pada situasi kontekstual.Peserta didik diberikan beberapa pernyataan
yang terkait dengan stilmulus/bacaan, lalu peserta didik diminta memilih
benar/salah atau ya/tidak.Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait
antara satu dengan yang lainnya.Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah
agar diacak secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu.Susunan
yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang
benar.Apabila peserta didik menjawab benar pada semua pernyataan yang diberikan
diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu pernyataan
maka diberi skor 0.
c.
Isian singkat atau melengkapi
Soal isian singkat atau melengkapi adalah soal
yang menuntut peserta tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi
kata, frase, angka, atau simbol. Karakteristik soal isian singkat atau melengkapi
adalah sebagai berikut.
1) Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya
hanya satu bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian supaya
tidak membingungkan siswa.
2) Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat
dan pasti yaitu berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu.
Jawaban yang benar
diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
d.
Jawaban singkat atau pendek
Soal dengan bentuk jawaban singkat atau pendek
adalah soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap
suatu pertanyaan.Karakteristik soal jawaban singkat adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau
kalimat perintah;
2) Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar
mendapat jawaban yang singkat;
3) Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab
oleh siswa pada semua soal diusahakan relatif sama;
4) Hindari penggunaan kata, kalimat, atau frase
yang diambil langsung dari buku teks, sebab akan mendorong siswa untuk sekadar
mengingat atau menghafal apa yang tertulis
dibuku.
Setiap
langkah/kata kunci yang dijawab benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah
diberikan skor 0.
e.
Uraian / Essay
Soal
bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut siswa untuk
mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya
sendiri dalam bentuk tertulis.
Dalam
menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang
lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman
dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa.
Dengan kata lain, ruang lingkup ini menunjukkan kriteria luas atau sempitnya
masalah yang ditanyakan. Di samping itu, ruang lingkup tersebut harus tegas dan
jelas tergambar dalam rumusan soalnya.
Dengan
adanya batasan sebagai ruang lingkup soal, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan
soal dapat dihindari. Ruang lingkup tersebut juga akan membantu mempermudah
pembuatan kriteria atau pedoman penskoran.
Untuk
melakukan penskoran, penulis soal dapat menggunakan rubrik atau pedoman
penskoran. Setiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta didik
diberi skor 1, sedangkan yang salah diberi skor 0. Dalam sebuah soal
kemungkinan banyaknya kata kunci atau langkah-langkah penyelesaian soal lebih
dari satu.Sehingga skor untuk sebuah soal bentuk uraian dapat dilakukan dengan
menjumlahkan skor tiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta
didik.
Untuk
penilaian yang dilakukan oleh sekolah seperti Ujian Sekolah (US) bentuk soal
HOTS yang disarankan cukup 2 saja, yaitu bentuk pilihan ganda dan
uraian.Pemilihan bentuk soal itu disebabkan jumlah peserta US umumnya cukup
banyak, sedangkan penskoran harus secepatnya dilakukan dan diumumkan hasilnya.Sehingga
bentuk soal yang paling memungkinkan adalah soal bentuk pilihan ganda dan
uraian.Sedangkan untuk penilaian harian, dapat disesuaikan dengan karakteristik
KD dan kreativitas guru mata pelajaran.
Pemilihan bentuk soal hendaknya dilakukan
sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment of learning, assessment for
learning, dan assessment as learning. Masing-masing guru mata pelajaran
hendaknya kreatif mengembangkan soal-soal HOTS sesuai dengan KI-KD yang
memungkinkan dalam mata pelajaran yang diampunya.Wawasan guru terhadap isu-isu
global, keterampilan memilih stimulus soal, serta kemampuan memilih kompetensi
yang diuji, merupakan aspek-aspek penting yang harus diperhatikan oleh guru,
agar dapat menghasilkan butir-butir soal yang bermutu
C.
Level Kognitif
Anderson & Krathwohl (2001)
mengklasifikasikandimensi prosesberpikir sebagai berikut.
Tabel 2.2 Dimensi Proses Berpikir
• Mengkreasi ide/gagasan sendiri.
Mengkreasi • Kata kerja: mengkonstruksi, desain, kreasi,
mengembangkan, menulis, memformulasikan.
• Mengambil
keputusan sendiri.
|
||||||||||
HOTS
|
Mengevaluasi
|
• Kata
kerja: evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan,
|
||||||||
memilih, mendukung.
|
||||||||||
Menganalisis
|
• Menspesifikasi
aspek-aspek/elemen.
|
|||||||||
• Kata
kerja: membandingkan, memeriksa, , mengkritisi, menguji.
|
||||||||||
Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS
Untuk
menulis butir soal HOTS, penulis soal
dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan
materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu
sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan
ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku
pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis
soal (kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai
dengan situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan.Berikut
dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS.
1.
Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Terlebih
dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS.Guru-guru secara mandiri atau
melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan
soal-soal HOTS.
2.
Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi
penulisan soal-soal HOTS bertujuan
untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru
dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan
diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.
3.
Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus
yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca
stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta
didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk
membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari
lingkungan sekolah atau daerah setempat.
4.
Menulis butir pertanyaan sesuai dengan
kisi-kisi soal
Butir-butir
pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS.Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah
penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi,
sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal
ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.
5.
Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci
jawaban
Setiap
butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau
kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci
jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks
(benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.
PERAN
SOAL HOTS DALAM PENILAIAN
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan pada
pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar
oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian
hasil belajar oleh Pemerintah.Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan
untuk memantau dan mengevaluasi proses,kemajuan belajar, dan perbaikan hasil
belajar peserta didik secara berkesinambungan.
Soal-soal HOTS bertujuan untuk mengukur
keterampilan berpikir tingkat tinggi.Dalam melakukan Penilaian, guru dapat
menyisipkan beberapa butir soal HOTS. Berikut dipaparkan beberapa peran
soal-soal HOTS dalam meningkatkan mutu Penilaian
1. Mempersiapkan kompetensi peserta didik
menyongsong abad ke-21
2. Memupuk rasa cinta danpeduli terhadap kemajuan
daerah
3. Meningkatkan
motivasi belajar peserta didik
4.
Meningkatkan
mutu Penilaian
1. Perhatikan gambar berikut!
A. metoksi butana
B. propil metanoat
C. metil propanoat
D. butil metanoat
E. metil butanoat
2. Suatu logam dibiarkan diruang terbuka dan berkontak dengan udara dan air. Logam ini akan mengalami perubahan
secara perlahan. Bentuk fisik logam lam kelamaan berubah menjadi rapuh, sehinga
mudah dipatahkan. Biasanya akan terbentuk suatu senyawa yang tidak diinginkan.
Untuk menghindari hal itu biasanya penggunaan pagar untuk desain eksterior
dilapisi dengan cat. Jika logam tersebut adalah besi, senyawa yang tidak
diinginkan yang mungkin terbentuk adalah...
A. Fe(OH)2
B. Fe2O
C.
Fe2O3.H2O
D. FeO3
E. FeO2
Contoh Soal HOTS Essay :
1. Perhatikan ciri-ciri unsur berikut.
- Unsur A berwujud gas yang sangat
beracun.
- Unsur B mempunyai titik didih
paling tinggi.
- Unsur C dapat bereaksi dengan
asam dan basa.
- Unsur D oksidanya menyebabkan hujan asam
Susunlah keempat unsur
berdasarkan : Jari-jari atom semakin besar dan Energi ionisasi semakin kecil
|
Contoh
soal 2
|
Rubrik Penilaian
|
HOTS
|
|
Hitunglah
pH larutan campuran dari 100mL
CH3COOH
0,1 M dan 100mL
NaOH 0,1 M, jika diketahui Ka = 10-4. Prediksilah garam
apa yang terbentuk dan bersifat asam atau basa.
|
Total Skor jawaban 25
Mol CH3COOH = M.V = 0,1 L x 0,1 M
= 0,01 mol
Mol NaOH = M. V = 0,1 L x 0,1 M
= 0,01 mol (skor 2)
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Garam yang terbentuk adalah CH3COONa
(skor 3)
CH3COONa + H2O → CH3COOH
+ OH-
Karena hasil hidrolisis garamnya terdapat OH- sehingga
garam bersifat basa
(skor 3)
CH3COOH +
NaOH →
CH3COONa + H2O
Mulamula:0,01mol 0,01 mol
- -
sisa : - - 0,01mol -
mol CH3COONa = 0,01 mol (skor 2)
V CH3COONa = CH3COOH + V NaOH
= 100Ml + 100Ml= 200ML = 0,2 L
M CH3COONa =mol/V =0,01mol/0,2L
=0,05M (skor 3)
(skor 2)
pOH = - log OH-
= - log (2,2.10-6)
= 6 – log 2,2 (skor 2)
pH = 14 – pOH
= 14
– (6 – log 2,2)
= 8 + log 2,2 (skor 3)
|
·
Creative
thinking dan Problem Solving
Pola penyelesaian soal yang berurutan dan sistematis
Harus mencari mol NaOH dan CH3COOH terlebih dahulu, serta
mencari kemungkinan jawaban dari seharusnya garam apa yang dihasilkan dan sifat dari garam dengan menganalisis CH3COOH
termasuk asam kuat atau asam lemah, NaOH termasuk basa kuat atau basa lemah,
jika bereaksi seharusnya yang terbentuk apa dan jika berekasi dengan air atau
terjadi hidrolisis garam apa yang bereaksi dan sifat garam yang dihasilkan
baru bisa melangkah ke tahap selanjutnya untuk mencari Ph yaitu mencari OH-
|
|
·
Critical thinking
Siswa mampu menganalisis apa yang dibutuhkan untuk menghitung pH jika
diperoleh sifat garam basa dari campuran CH3COOH dan NaOH
yaitu mencari pOh nya terlebih dahulu, pOh diperoleh jika ada OH- dan OH- akan diperoleh jika ada M garam, M garam di
peroleh dari hasil reaksi pencampuran mol CH3COOH dan NaOH
|
PERMASALAHAN
1. Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik .Dari beberapa contoh soal yang saya sajikan, menurut Anda apakah sudah terdapat stimulus, berikan saran dan pendapat anda mengenai soal tersebut!
2. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making). Bagaimanakah cara menilai kemampuan berpikir kreatif siswa dalam HOTS ini jika menggunakan soal tes? apakah dari soal yang telah saya sajikan bisa memunculkan berpikir kreatif siswa?


untuk soal no 2 kita bisa menggunakan instrumen penilaian berpikir kreatif dengan mengkombinasikan indikator kreatif dan tujuan pembelajaran
ReplyDeletedi berpikir kreatif ada 5 tingkatan yaitu kelancaran, fleksibelitas, originalitas, elaborasi dan sensitivity. dimana setiap 1 soal dapat mencakup indikator berpikir kreatif tersebut, sehingga perintah soal bisa dibuat dengan kalimat perintah seperti jelaskan dengan penapatmu, berikan contoh2 dan sebagainya yg menuntut anak untuk menjawab sesuai dengan pandangan mereka
Saya setuju dengan kk tri. Untuk membuat sol essay berpikir kreatif kita harus menjabarkan dlu indikator berpiki kreatif kemudian setiap indikator itu kita jabarkan menjadi soal soal . Sehingga perintah soal bisa dibuat dengan kalimat perintah seperti jelaskan pendapatmu. Bagaimana cara. Apa yang harus di lkukan. Mengapa itu bisa terjadi jelaskan. Sehingga dengan sendirinya siswa akan bepikir dengan pandangan mereka sendiri.
Deletemenurut saya contoh soal yang dibuat oleh kak melda sudah menunjukkan HOTS yang mengarahkan pada stimulus. karna Stimulus yang digunakan menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca. kemudian dari pada itu juga menurut saya Soal-soal HOTS pada konteks asesmen sudah bisa dikatakan mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.
ReplyDeletemenjawab pertanyaan melda, yakni apakah dari soal yang telah saya sajikan bisa memunculkan berpikir kreatif siswa?
ReplyDeletemenurut saya, soal yang melda buat sudah cukup baik, namun jika yang ingin dilihat adalah proses berpikir kreatif siswa dalam konteks HOTS maka akan lebih baik jika menggunakan soal tes essay terstruktur atau bisa juga dengan meminta siswa mengerjakan suatu proyek berdasarkan materi yang telah dipaparkan, dirancang oleh siswa sendiri, dan disimpulkan oleh siswa sendiri dengan demikian indikator kreatif(original, fleksibel, luwes, lancar) yang mungkin muncul saat siswa ber-HOTS akan mudah untuk dinilai. dan ini tentunya perlu dilakukan kontrol berkala oleh guru dan buth perencanaan yang matang sehingga hasil yang diharapkan sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh siswa (tidak ada miskonsepsi pemahaman natara guru-siswa).
saya sependapat dengan kak rini, dan cara mencari jawaban siswa/ cara yang dia dapatkan untuk mendapatkan jawaban inti. jadi, mungkin saja rumus yang diajarkan guru adalah A, sementara siswa menjawab dengan rumus B yang memang rumus ini dipakai berkaitan dengan permasalahan.
DeleteSaya sepndapat dengan kak rini yaitu
DeleteSoal yg dibuat sudah cukup baik, namun jika yang ingin dilihat adalah proses berpikir kreatif siswa dalam konteks HOTS maka akan lebih baik jika menggunakan soal tes essay terstruktur atau bisa juga dengan meminta siswa mengerjakan suatu proyek berdasarkan materi yang telah dipaparkan, dirancang oleh siswa sendiri, dan disimpulkan oleh siswa sendiri dengan demikian indikator kreatif(original, fleksibel, luwes, lancar) yang mungkin muncul saat siswa ber-HOTS akan mudah untuk dinilai.
Jawaban tiap soal dari setiap siswapun bermacam" sehingga secara tidak langsung kita juga dapat melihat kreatifitas siswa perindividu.
Saya sependapat dengan teman2 di atas, soal yang melda buat sudah cukup baik
DeleteDapat melihat dari jawaban siswa dalam menyelesaiakn soal tersebut yg terkadang siswa punya sudut pandang yg berbeda beda sehingga dpt melihat kreatifitas setiap individu.
Soal yang kak melda berikan sudah terdapat stimulus, hanya saja pada nmr 1 sebaiknya diberikan animasi namun kalau berbentuk print out sebaiknya menggunakan urutan skema satu persatu dilarutkan agar siswa lebih memahami maksud dari gambar dan kerangka-kerangka berpikir nya telah tersusun secara sistematis dalam menjawab pertanyaan tsb.
ReplyDeleteMenanggapi permasalahan pertama dimana pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik .Dari beberapa contoh soal yang disajikan apakah sudah terdapat stimulus dan berikan saran dan pendapat mengenai soal tersebut !
ReplyDeletesoal diatas sudah cukup bagus untuk dikategorikan sebagai soal HOTS karena sudah mengandung stimulus yang bersifat kontekstual. namun pada soal no.2 tentang menghitung pH larutan total skor sesuai uraian seharusnya 20, namun tertulis 25. Supaya dikoreksi kembali dan diperbaiki
sepndapat dengan kak nelly. stimulus sangat diperlukan dalam penyusunan soal HOTS.. namun saya menyarankan stimulusnya lebih bervariasi lagi. tidak hanya yg kontekstual saja.
Deletemenurut saya jika instrumen tes untuk menguji kreatifitas siswa berupa soal esai bisa dilakukan dengan membuat soal dengan suatu permasalah dan meminta siswa menyelesaikan. namun jika mengerjakan sosl objektif tidak bisa menilai kreatifitas siswa.
ReplyDeletemenurut saya contoh soal yang dibuat oleh kak melda sudah menunjukkan HOTS yang mengarahkan pada stimulus. karna Stimulus yang digunakan menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru dan belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca. dalam soal tersebut sudah dapat memencing peserta didik untuk mengerjakannya tanpa merasa kesulita atau tebebani
ReplyDelete