MATERI 2 : PENILAIAN KETERAMPILAN DASAR LABORATORIUM DALAM KIMIA
Penilaian
kinerja (performance assessment) secara sederhana dapat dinyatakan sebagai
penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu
perbuatan. Menurut para ahli penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap
perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan
siswa dalam proses maupun produk. Penilaian tersebut mengacu pada standar
tertentu.
Terdapat
istilah lainnya yang berkaitan dengan penilaian kinerja yaitu penilaian
alternatif (alternative assessment) dan penilaian otentik (authentic
assessment). Beberapa ahli (Marzano, 1994; Popham, 1995; Bookhart, 2001)
menyatakan bahwa istilah penilaian otentik kadang‑kadang digunakan untuk
menjelaskan penilaian kinerja karena tugas‑tugas asesmennya yang lebih dekat
dengan kehidupan nyata. Istilah penilaian alternatif digunakan untuk penilaian
kinerja karena merupakan alternatif untuk penilaian tradisional‑paperand
pencil test (tes tertulis obyektif).
Standar
diperlukan dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi secara jelas apa yang
seharusnya siswa ketahui dan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan. Standar
tersebut dikenal dengan istilah rubrik. Rubrik dapat dinyatakan sebagai panduan
pemberian skor yang menunjukkan sejumlah kriteria performance pada
proses atau hasil yang diharapkan. Rubrik terdiri atas gradasi mutu kinerja
siswa mulai dari kinerja yang paling buruk hingga kinerja yang paling baik
disertai dengan skor untuk setiap gradasi mutu tersebut. Dengan mengacu pada
rubrik inilah guru memberikan nilai terhadap kinerja siswa.
Selain dari
rubrik, penilaian kinerja terdiri atas komponen lainnya yaitu task (tugas‑tugas).
Task merupakan perangkat tugas yang menuntut siswa untuk menunjukkan
suatu peformance (kinerja) tertentu.
Ada 7
kriteria Untuk mengevaluasi apakah penilaian kinerja (Performance Assessment) berkualitas atau tidak.
1. Generability:
apakah kinerja siswa dalam melakukan tugas yang diberikan sudah memadai untuk
digeneralisasikan kepada tugas lain.
2. Authenticity:
apakah tugas yg diberikan sudah serupa dengan apa yang sering dihadapi dalam
praktek kehidupan sehari-hari
3. Multiple
foci: apakah tugas yg diberikan kepada siswa sudah mengukur lebih dari
satu kemampuan yang diinginkan
4. Teachability:
tugas yg diberikan merupakan tugas yg hasilnya makin baik karena adanya usaha
mengajar guru di kelas?
5. Fairness:
apakah tugas yg diberikan sudah adil untuk semua siswa.
6. Feasibility:
apakah tugas yg diberikan relevan utk dapat dilaksanakan (faktor biaya, tempat,
waktu atau alat)
7. Scorability:
apakah tugas yg diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliable ?
Penilaian
kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian
kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal
tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara
“mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan
hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum
tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada
hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation).
Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau
ketercapaian tujuan tersebut.
Penilaian
kinerja dapat menliai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran kimia,
penilaian kinerja lebih menekankan proses apabila dibandingkan dengan hasil.
Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau
kemampuan siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara
langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan
waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah.
Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat
dilakukan terhadap produk. Misalnya untuk menilai kemampuan siswa membuat
koloid maka guru kimia dapat melihat hasil produk koloid siswa. Melalui produk
tersebut dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan pembuatan koloid
dan usahanya. Usaha dan kemajuan belajar mendapatkan penghargaan dalam
penilaian kinerja. Hal tersebut menyebabkan penilaian kinerja memiliki
keunggulan untuk pembelajaran kimia bila dibandingkan dengan tes tradisional
yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Penilaian
kinerja memiliki kekuatan apabila dibandingkan dengan penilaian tradisional.
Kekuatan tersebut dapat dirangkum sebagai berikut: 1) siswa dapat
mendemonstrasikan suatu proses, 2) proses yang didemontrasikan dapat
diobservasi; 3) menyediakan evaluasi lebih lengkap dan alamiah untuk beberapa
macam penalaran, kemampuan lisan, dan keteramplian – keterampilan fisik; 4)
adanya kesepakatan antara guru dan siswa tentang kriteria penilaian dan tugas‑tugas
yang akan dikerjakan; 5) menilai hasil pembelajaran dan keterampilan‑keterampilan
yang kompleks; 7.) memberi motivasi yang besar bagi siswa; serta 8) mendorong
aplikasi pembelajaran pada situasi kehidupan yang nyata.
Selain
memiliki kekuatan, penilaian kinerja memiliki juga beberapa keterbatasan yaitu;
1), sangat, menuntut waktu dan usaha; 2) pertimbangan (jadgement) dan
penskoran sifatnya lebih subyektif; 3) lebih membebani guru; dan 4) mempunyai
reliabilitas yang cenderung rendah. Meskipun penilaian kinerja memiliki
keterbatasan, penilaian kinerja tetap perlu dilaksanakan pada pembelajaran
kimia untuk mengatasi kelemahan dari tes dalam menilai siswa.
Perangkat
penilaian kinerja sebaiknya dikembangkan melalui uji coba dalam pembelajaran.
Guru kimia dapat menguji dan mengembangkain task (tugas) dan rubrik penilaian
kinerja agar cocok dengan kondisi di kelasnya serta sesuai dengan kemampuan
siswa. Ujicoba dapat dilakukan sambil guru mengajar di kelas. Hasil uji coba
tersebut dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan perangkat penilaian kinerja
agar menjadi lebih feasible (dapat dikerjakan), lengkap dan aman
dilakukan.
Beberapa
pedoman untuk memeriksa kualitas perangkat penilaian kinerja dapat dikemukakan
sebagai berikut: 1) esensial dan valid (dihubungkan dengan standar dan tujuan
utama kurikulum); 2) otentik (problem dan proses mendekati atau sesuai dunia
nyata); 3) Integratif (menuntut integrasi pengetahuan, konsep, sikap dan
kebiasaan berpikir). 4.) pengukuran bersifat open ended (merangsang
munculnya pertanyaan‑pertanyaan sepanjang pengerjaan tugas); 5) problem menarik
bagi siswa dan memerlukan ketekunan; 6) mendorong siswa menjadi pemikir yang
divergen dan bijaksana; 7).feasible (aktivitas aman bagi siswa dan dapat
dikerjakan); 8) penilaian mengikuti keragaman gaya belajar siswa; 9) penggunaan
kelompok kerja dapat merangsang proses berpikir individual; 10) akuntabilitas
individual (meskipun digunakan kelompok kerja, kinerja individual harus mudah
diobservasi); 11) terdapat sejumlah definisi (bila diperlukan) dan petunjuk
yang jelas, 12) pengalaman siswa menjadi umpan balik untuk siklus perbaikan;
13) siswa memiliki beberapa format pilihan cara untuk mempresentasikan produk
akhir, 14) kriteria kualitas jelas bagi siswa sejak awal kegiatan; 15) panduan
penskoran harus mudah digunakan.
Metode-metode
yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain: observasi; 2)
interviu, 3) portofolio; 4) penilaian essay; 5) ujian praktek (practical
examinatian); 6) paper; 7) penilaian proyek; 8), kuesioner, 9) daftar cek (checklist),
10) penilaian oleh teman (peer rating); I I) penilaian diskusi; dan
12) penilaian jurnal kerja ilmiah siswa.
Langkah‑langkah
utama yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja yaitu: 1)
menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa; 2) memilih fokus asesmen
(menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya), 3) memilih tingkatan realisme
yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan
nyata); 4) memilih metode observasi, pencatatan dan penskoran; 5) mengujicoba
task dan rubrik pada pembelajaran; serta 6) memperbaiki task dan rubrik
berdasarkan hasil ujicoba untuk digunakan pada pembelajaran berikutnya.
Penilaian
kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian
kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal
tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara
“mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan
hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum
tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada
hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real
world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya
untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
Terdapat
5 aspek yang dinilai, yaitu:
1.
Teknik dasar kerja laboratorium
Berupa penggunaan alat, pemahaman
sifat zat, pencucian dan pembuatan larutan, penanganan limbah, pemeliharaan
alat dan bahan. Dapat dinilai dengan cara observasi menggunakan skala beda
semantik contoh:
sangat
kompeten
tidak kompeten
3
2
1
0
1 2
3
2. Perhitungan
Dari data pengamatan dan laporan yang dikerjakan.
Penilaian menggunakan skala sebagai berikut :
teliti tidak teliti
3
2
1
0
1 2
3
3. Intrepretasi data
Data yang diperoleh harus akurat dan reliabilitas,
oleh karena itu untuk memperolehnya dapat menggunakan berbagai alat ukur. contoh
pada penentuan sifat asam basa suatu zat dapat diuji dengan berbagai alat uji,
misal indikator alami, kertas lakmus, indikator universal, pH meter.
Penilaian dengan menggunakan skala sebagai berikut
:
lengkap
tidak lengkap
3
2
1
0
1 2
3
4. Perakitan Alat
Dalam melakukan praktikum, siswa harus mampu
merakit alat percobaan sehingga dapat digunakan dalam praktikum. Penilaian
menggunakan skala sebagai berikut :
tepat tidak tepat
3
2
1
0
1 2
3
5. Referensi Ilmiah
Setelah melakukan praktikum dan memperoleh data
pengamatan, hasil percobaan dibahas dan dihubungkan dengan konsep yang
mendukung data pengamatan. Diperlukan beberapa referensi ilmiah dalam
mengerjakan laporan praktikum. Penilaian menggunakan skala sebagai berikut:
relevan tidak
relevan
3
2
1 0
1
2 3
PERMASALAHAN
Terdapat 5 aspek yang dinilai, yaitu:
1. Teknik dasar kerja laboratorium
2. Perhitungan
3. Intrepretasi data
4. Perakitan Alat
5. Referensi Ilmiah
dan terdapat beberapa metode-metode yang dapat
digunakan untuk penilaian kinerja antara lain: observasi; 2) interviu, 3)
portofolio; 4) penilaian essay; 5) ujian praktek (practical examinatian); 6)
paper; 7) penilaian proyek; 8), kuesioner, 9) daftar cek (checklist), 10) penilaian
oleh teman (peer rating); I I) penilaian diskusi; dan 12) penilaian
jurnal kerja ilmiah siswa. Metode
manakah yang kiranya paling tepat digunakan agar 5 aspek yang perlu dinilai
dapat dinilai dengan baik atau dapatkah penggunaan lebih dari 1 metode atau
bahkan semua metode untuk menilai ke 5 aspek yang perlu dinilai tersebut ?

Menurut saya dalam praktikum jika tidak membuat suatu produk maka metode yang cocok untuk memenuhi 5 aspek itu adalah lembar observasi dalam menilai keterampilan kinerja dalam pelaksanaan praktikum dan juga portofolio atau yang disebut juga dengan laporan kerja setelah praktikum. Kedua ini saling melengkapi dalam penilaian psikomotor dalam pelaksanaan praktikum kimia dilaboratorium.
ReplyDeleteSaya sependapat dengan Rini, selain itu, dapatkah penggunaan lebih dari 1 metode untuk menilai ke 5 aspek yang perlu dinilai tersebut ?
DeleteTentu saja boleh karna penilain yg otentik adalah penelaian yg sesuai dengan apa yg ingin di nilai atau apa yg ingin dilhat dari suatu proses pembelajaran yg telah dilakukan.
menurut saya bisa saja semua metode tsb digunakan untuk menilai kinerja siswa yang 5 itu td. namun, pastinya akan membuang banyak waktu. saya setuju dgn rini pilih saja lembar observasi dan portofolio.
Deletesaya sependapat dengan teman-teman bahwa boleh tetapi dengan menilai kinerja siswa yang 5 itu membutuhkan waktu yang cukup lama tetapi sesuai dengan apa yang ingin dinilai sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Deletemenurut saya untuk menilai 5 aspek (Teknik dasar kerja laboratorium, Perhitungan, Intrepretasi data, Perakitan Alat dan Referensi Ilmiah) salah satu cara yang dapat kita lakukan menilai melalui observasi. Observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan cara menggunakan instrumen yang sudah dirancang sebelumnya.
ReplyDeleteContoh aspek yang diamati pada Teknik dasar kerja laboratorium dan Perakitan Alat dapat dinilai seperti: ketelitian, kecepatan kerja, kerjasama, kejujuran.
kemudian untuk Perhitungan, Intrepretasi data dan Referensi Ilmiah
sependapat dengan esa bahwa untuk menilai 5 aspek (Teknik dasar kerja laboratorium, Perhitungan, Intrepretasi data, Perakitan Alat dan Referensi Ilmiah) salah satu cara yang dapat kita lakukan menilai melalui observasi. Observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan cara menggunakan instrumen yang sudah dirancang sebelumnya.
DeleteContoh aspek yang diamati pada Teknik dasar kerja laboratorium dan Perakitan Alat dapat dinilai seperti: ketelitian, kecepatan kerja, kerjasama, kejujuran. penilaian observasi dengan penilaian diskusi, lalu selanjutnya untuk menilai hasil kerja siswa dapat juga digunakan dengan sistem potofolio, penilaian proyek dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan aspek apa yang ingin dinilai atau diamati pada pertemuan tersebut.
menurut saya untuk menilai kelima aspek tersebut harus disesuai dahulu dengan keperluan dan apa yang ingin dinilai dan pada saat pelaksanaannya jika memang diperlukan kita dapat menggunakan lebih satu metode misalnya penilaian observasi dengan penilaian diskusi, lalu selanjutnya untuk menilai hasil kerja siswa bida digunakan potofolio, penilaian proyek dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan aspek apa yang ingin dinilai
ReplyDeleteApabila untuk menilai aspek Teknik dasar kerja laboratorium, Perhitungan, Intrepretasi data, Perakitan Alat dan Referensi Ilmiah perlu menggunakan lebih dari satu metode dan sesuai keinginan penilai se detail apakah yang ingin dilihat dari siswanya. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misal teknik ujian tes, bisa menilai seluruh aspek yang mau dinilai itu dari segi pengetahuan dan terlihat autentik dan kondusif karena langsung dari siswa dan tanpa pengamatan kita siswa sudah dapat ternilai, dan pengetahuan juga tidak menutup kemungkinan dapat menggambarkan keterampilan siswa. Tapi kelemahannya guru tidak bisa menilai secara langsung aktifitas siswa. Jadi menurut saya untuk menilai itu perlu disesuaikan dengan keinginan penilai sedetail apakah yang ingin dinilai atau hanya sekilas saja. Lalu setiap penilaian ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.
ReplyDeletemenjawab pertanyaan melda, Metode manakah yang kiranya paling tepat digunakan agar 5 aspek yang perlu dinilai dapat dinilai dengan baik atau dapatkah penggunaan lebih dari 1 metode atau bahkan semua metode untuk menilai ke 5 aspek yang perlu dinilai tersebut ?
ReplyDeletemenurut saya bisa dengan penilaian berbasis portofolio, penilaian kinerja yang kemudian diperkuat dengan penilaian tertulis. namun itu kembali lagi ke kebutuhan gurunya, apa yang sbenarnya menjadi fokus penilaian, apakah aspek kognitif, afektif ataukah psikomotor
saya sependapat dengan kk rini, bisa dengan penilaian berbasis portofolio, penilaian kinerja yang kemudian diperkuat dengan penilaian tertulis. namun itu kembali lagi ke kebutuhan gurunya, apa yang sbenarnya menjadi fokus penilaian, apakah aspek kognitif, afektif ataukah psikomotor
Deletemenurut saya untuk menilai kelima aspek tersebut harus disesuai dahulu dengan keperluan dan apa yang ingin dinilai dan pada saat pelaksanaannya jika memang diperlukan kita dapat menggunakan lebih satu metode.
ReplyDeleteMrlihat dari fokus guru ingin menilai apa kah afektif, psikomotor atau afektif siswanya.
metode manakah yang kiranya paling tepat digunakan agar 5 aspek yang perlu dinilai dapat dinilai dengan baik atau dapatkah penggunaan lebih dari 1 metode atau bahkan semua metode untuk menilai ke 5 aspek yang perlu dinilai tersebut ? hal ini kita sesuaikan dengan apa yang ingin dicapai. hal apa yang ingin dinilai. kita sesuaikan dengan apa kebutuhan yang ingin di evaluasi.
ReplyDeleteUntuk memilih metode dalam menilai kita harus memperhatikan apa yg mau kita dapatkan dan dibutuhkan. Jadi tidak harus di gunakan smuanya. Namun bisa di pilih yg sesuai dengan apa yg ingin kita capai
ReplyDelete.
menurut saya untuk menilai 5 aspek (Teknik dasar kerja laboratorium, Perhitungan, Intrepretasi data, Perakitan Alat dan Referensi Ilmiah). untuk penilaian teknik dasar kerja dan perakitan alat kita bisa menilainya dengan mengamati langsung kerja anak di labor. sedangkan untuk Perhitungan, Intrepretasi data, dan referensi ilmiah bisa kita lihat dari portofolio atau laporan praktikumnya.
ReplyDelete