MATERI 4 : PENILAIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PEMBELAJARAN KIMIA



PENILAIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

A.     Pengertian Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses menurut Rustaman (2003) adalah keterampilan yang melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial. Keterampilan kognitif terlibat karena dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya. Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat. Keterampilan sosial juga terlibat dalam keterampilan proses karena mereka berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan. Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman langsung sebagai pengalaman belajar. Melalui pengalaman langsung, seseorang dapat labih menghayati proses atau kegiatan yang sedang dilakukan.
Menurut Dahar (2012), keterampilan proses sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Keterampilan proses sains (KPS) adalah perangkat kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah ke dalam rangkaian proses pembelajaran.

B.     Kelebihan Keterampilan Proses Sains
Menurut Dimyati (2009), kelebihan KPS adalah:
1. KPS dapat memberikan rangsangan ilmu pengetahuan, sehingga siswa dapat memahami fakta dan konsep ilmu pengetahuan dengan baik.
2. Memberikan kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan siswa menjadi lebih aktif.
3. KPS membuat siswa menjadi belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus.

C.     Penilaian Keterampilan Proses Sains
Menurut Smith dan Welliver, pelaksanaan penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya:
1.      Pretes dan postes.  Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing siswa dalam keterampilan yang telah diidentifikasi. Pada akhir tahun sekolah, guru melaksanakan tes kembali untuk mengetahui perkembangan skor siswa setelah mengikuti pembelajaran sains.
2.      Diagnostik. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada bagian mana siswa memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru merencanakan pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk mengatasi kekurangan siswa.
3.      Penempatan kelas. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai salah satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria untuk memasuki kelas akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
4.      Pemilihan kompetisis siswa. Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam lomba-lomba sains. Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan dapat mengikuti lomba sains dengan baik.
5.      Bimbingan karir. Biasanya para peneliti melakukan uji coba menggunakan penilaian keterampilan proses sains untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki potensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dibina.

        D.     Instrumen Penilaian Keterampilan Proses Sains
Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi  dan tingkat perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu, penyusunan instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum digunakan.  Menurut Widodo (2009), penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses siswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasikan jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
2.      Merumuskan indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
3.      Menentukan dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
4.      Membuat kisi-kisi instrumen.
5.      Mengembangkan instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek tes)
6.      Melakukan validasi instrumen.
7.      Melakukan ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
8.      Perbaikan butir-butir yang belum valid.
9.      Terapkan sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains.
Pada langkah-langkah penyusunan instrument di atas, pencarian validitas dan reabilitas empiris terutama dilakukan untuk penilaian keterampilan proses sains yang beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi yang dimaksud adalah penilaian dalam penelitian, penilaian dalam skala besar atau penilaian untuk tujuan tertentu.
Pengukuran terhadap keterampilan proses siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan secara tes (paper and pencil test) dan bukan tes. Penilaian melalui tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis (paper and pencil test). Sedangkan penilaian melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Menurut Bajah (2000), penilaian dalam keterampilan proses agak sulit dilakukan melalui tes tertulis dibandingkan dengan teknik observasi. Namun demikian, menggunakan kombinasi kedua teknik penilaian tersebut dapat meningkatkan akurasi penilaian terhadap keterampilan proses sains.
Penilaian keterampilan proses melalui tes tertulis
Penilaian secara tertulis terhadap keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang disusun dalam bentuk pertanyaan konvergen  dan pertanyaan divergen. Penilaian dalam bentuk essai memerlukan jawaban yang berupa pembahasan atau uraian kata-kata. Jawaban yang dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat subjektif, yang berarti menggambarkan pemahaman yang lebih indiviualistik.
Menurut Arikunto (2009), penilaian dalam bentuk pilihan ganda, lebih representative mewakili isi dan luas bahan atau materi. Selain itu, dalam proses pemeriksaan dapat terhindar dari unsur-unsur subjektivitas. Namun demikian, penggunaan penilaian model ini, cenderung mengungkapkan daya pengenalan kembali dan banyak memberi peluang tebakan. Hasil yang diperoleh pun dapat berbeda dengan kondisi siswa yang sesungguhnya.
Smith dan Welliver telah mengembangkan instrumen penilaian untuk mengukur keterampilan proses sains bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah. Instrumen tes tertulis disusun dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda. Untuk menjawab soal ini, siswa terlibat dalam pemecahan masalah dan mengharuskan menerapkan keterampilan proses yang tepat untuk setiap pertanyaan.
Penilaian keterampilan proses melalui bukan tes
Penilaian melalui keterampilan proses sains melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Pengamatan dalam penilaian ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Selama proses kegiatan pembelajaran sains dilaksanakan, guru dapat melakukan penilaian dengan mengamati perilaku siswa secara langsung dalam menunjukkan kemampuan keterampilan proses sains yang dimiliki. Selain itu, hasil-hasil pekerjaan tugas siswa atau produk hasil belajar siswa juga dapat diamati untuk menilai keterampilan proses siswa secara integrative.\
Menurut Sumiati dan Asra (2008), Arikunto (2009) dan Widyatiningtyas (2010), penilaian keterampilan proses dengan melalui bukan tes diperlukan lembar pengamatan yang lebih rinci untuk menilai perilaku yang diharapkan. Lembar pengamatan ini dapat berupa rubrik, daftar chek atau skala bertingkat. Menilai siswa dengan menggunakan rubrik, dapat mendeterminasikan kemampuan siswa berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan. Rubrik penilaian memuat kriteria esensial  terhadap tugas atau standar keterampilan proses sains serta level unjuk kerja yang tepat terhadap setiap kriteria.
Kriteria
Skor
4
(sangat baik)
3
(baik)
2
(cukup)
1
(kurang)
Tujuan percobaan
Mengidentifikasi tujuan dan cirri khusus
Mengidentifikasi tujuan
Mengidentifikasi sebagian tujuan
Salah mengidentifikasi tujuan
Alat dan Bahan
Melist semua alat dan bahan
Melist semua bahan
Melist beberapa bahan
Salah melist bahan
Hypotesis
Memprediksi dengan benar fakta dan membuat hipotesis
Memprediksi dengan benar fakta
Memprediksi dengan beberapa fakta
Menebak-nebak
Prosedur
Melist semua tahap dan detail-detail khusus
Melist semua tahap
Melist beberapa tahap
Salah melist tahap
Hasil
Data direkam, diorganisir, dan digrafiskan
Data direkam, diorganisir
Data direkam
Hasil salah atau tidak betul
Simpulan
Tampak memahami konsep dan membuat hipotesis baru untuk aplikasi pada situasi lain.
Tampak memahami konsep yang telah dipelajari
Tampak memahami beberapa konsep
Tidak ada kesimpulan atau tampak miskonsepsi
Sebuah contoh rubrik penilaian untuk mengukur kegiatan percobaan laboratorium dapat disajikan, sebagai berikut:

Sebagaimana pada contoh di atas, sebuah rubric memuat dua komponen, yaitu kriteria dan level unjuk kerja (performance). Pada setiap rubrik terdiri atas minimal dua criteria dan dua level unjuk kerja. Criteria biasanya ditempatkan pada kolom paling kiri, sedangkan level unjuk kerja ditempatkan pada baris paling atas dalam tabel rubrik. Untuk memudahkan dalam penggunaannya, level unjuk kerja terdiri atas level kuantitatif berupa angka (1, 2, 3, dan 4) dan level kualitatif.
Dalam rubrik biasanya juga disertai dengan deskriptor. Dekriptor menyatakan harapan kondisi siswa pada setiap level unjuk kerja untuk setiap criteria. Pada contoh rubrik, dapat dilihat adanya perbedaan diskriptor antara tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan baik. Pada descriptor, siswa dapat melihat syarat unjuk kerja untuk mencapai sebuah level kriteria. Bagi guru, descriptor dapat membantu guru untuk memberikan penilaian secara konsisten pada hasil kerja siswa.
Dalam implementasinya, penilaian melalui observasi dengan menggunakan rubrik penilaian memiliki beberapa keunggulan. Ketika rubrik penilaian ini dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran, ekspektasi terhadap pencapaian level keterampilan proses dapat diidentifikasikan dan dipahami secara baik oleh siswa. Observasi dapat menghasilkan penilaian yang konsisten dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian dapat menghasilkan umpan balik (feedback) yang lebih baik. Hasil penilaian dapat menunjukkan level khusus performans siswa selanjutnya yang harus dicapai oleh siswa. Dalam hal ini, guru dan siswa dapat mengetahui secara pasti, area kebutuhan siswa yang perlu pengembangan.
Dengan demikian, perihal rencana penilaian yang dilakukan untuk mengukur keterampilan proses sains dapat dikomunikasikan secara pasti kepada siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran. Siswa sebagai subyek pembelajaran dapat menentukan target yang harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian pun dapat mencapai tujuan sebagaimana mestinya.
Waktu dan Subjek Penilaian
Selain perihal instrumen penilaian yang penting dirumuskan sebagai bagian terintegrasi dari rencana penilaian pembelajaran, waktu dan subyek penilaian juga harus direncanakan. Pelaksanaan penilaian keterampilan proses sains, dapat dilakukan di awal pembelajaran sebagai pretes, di akhir pembelajaran sebagai postes, atau selama pelaksanaan pembelajaran sebagai penilaian proses (on going assessment). Waktu pelaksanaan penilaian ini bersifat relative, dan sangat ditentukan oleh aspek keterampilan proses sains yang diukur dan tujuan penilaian itu sendiri. Jika penilaian dimaksudkan untuk melihat kemajuan perkembangan keterampilan proses sains yang dicapai siswa selama pembelajaran, maka penilaian dapat dilakukan dengan cara pretes/postes. Sedangkan penilaian keterampilan proses yang dimaksudkan untuk mengukur secara langsung detail-detail pencapaian keterampilan proses sains, maka penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi atau rubrik penilaian.
Perihal subyek penilaian dalam keterampilan proses sains juga dapat disesuaikan dengan tujuan penilaian dilakukan. Pelaksanaan penilaian keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk tiga arah yaitu penilaian guru, penilaian sebaya dan penilaian diri. Keterampilan proses sains umumnya dilakukan penilaiannya oleh guru pengampuh mata pelajaran. Dalam hal ini, penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh guru. Namun, untuk tujuan tertentu penilaian keterampilan proses sains dapat melibatkan siswa sebagai subyek penilaian.
Penilaian yang melibatkan siswa terhadap siswa lain dapat dilakukan dalam sebuah kelompok. Selama proses belajar berlansung, siswa bekerja dalam kelompok untuk sebuah percobaan. Keberadaan siswa dalam kelompok, tentu memiliki peran tersendiri sehingga masing-masing memberikan konstribusi sebagai tim. Aktivitas siswa selama bekerja dalam kelompok dan kontribusinya dalam mendukung hasil kerja dapat dirasakan dan diamati secara persis oleh setiap anggota kelompok. Dalam situasi ini, penilaian teman sebaya dapat digunakan sebagai data pembanding yang dapat diekuilibrasikan dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru. penilaian dengan melibatkan teman kelompok, dapat memberikan efek positif dalam perkembangan sikap ilmiah siswa. Secara korelasional hal ini diharapkan dapat meningkatkan peran siswa dalam kelompok sehingga berpengaruh kepada perkembangan keterampilan proses sains siswa.
Sementara itu, penilaian keterampilan proses sains yang melibatkan siswa dalam menilai dirinya dapat digunakan untuk memberikan bahan refleksi langsung bagi siswa. Dalam proses ini, siswa akan mengevaluasi kemampuan yang telah dicapainya, dan secara sportif memberikan pengakuan terhadap diri sendiri. Proses ini memiliki dampak psikologis yang diharapkan dapat memicu motivasi intrinsik siswa untuk terus mengembangkan keterampilan proses sains yang telah dicapai. Namun demikian, penilaian keterampilan proses sains yang melibatkan siswa hanya dapat dilakukan secara sinergis dan optimal jika instrumen penilaian disiapkan dengan kriteria yang jelas dan telah ditetapkan guru.


LEMBAR OBSERVASI  KETERLAKSANAAN KETERAMPILAN PROSES SAINS OLEH SISWA

Nama Sekolah             : SMA Negeri Kota Jambi
Materi                          :
Kelas / Semester          :
Pertemuan ke               :
Hari / Tanggal              :
Petunjuk                      : Berilah tanda checklist (√) pada kolom nomor siswa sesuai dengan kriteria siswa yang diamati

No
Sintak Inkuiri Terbimbing
Indikator
Kriteria
Nomor Siswa
Komentar/ Catatan








1












Orientasi














Menyimak dan merespon dengan baik apersepsi dan motivasi yang disampaikan guru
Skor 4 jika siswa  memperhatikan, mendengarkan, menanggapi serta termotivasi dengan yang disampaikan oleh guru dengan baik (4 item)









Skor 3 jika  siswa memperhatikan, mendengarkan, dan menanggapi yang disampaikan guru (3 item)








Skor 2 jika siswa  memperhatikan dan mendengarkan yang disampaikan guru (2 item)








Skor 1 jika siswa hanya mendengarkan yang disampaikan guru (1 item)








Terlibat dalam aktivitas pertukaran ide dan diskusi
Skor 4 jika siswa aktif dalam aktivitas pertukaran ide dan diskusi dengan anggota kelompok lain









Skor 3 jika siswa aktif dalam aktivitas pertukaran ide dan diskusi dengan anggota kelompoknya sendiri








Skor 2 jika siswa menyampaikan ide yang dimilikinya namun tidak menanggapi ide dari siswa lain








Skor 1 jika siswa hanya menyampaikan ide yang dimilikinya kepada anggota kelompoknya saja








Menelaah pertanyaan atau permasalahan dari guru
Skor 4 jika siswa menganalisis pertanyaan/permasalahan dan mencari dasar masalah serta pemecahan yang diberikan guru









Skor 3 jika  siswa menganalisis pertanyaan/permasalahan dan mencari dasar masalah namun tidak dengan pemecahannya








Skor 2 jika siswa menganalisis pertanyaan/permasalahan yang diberikan guru








Skor 1 jika siswa hanya mendengarkan pertanyaan/permasalahan yang diberikan guru








2
Merumuskan masalah
Siswa aktif dan antusias untuk bertanya serta menjawab pertanyaan berantai dari guru
Skor 4 jika siswa aktif dan antusias bertanya dan menjawab pertanyaan berantai dari guru









Skor 3 jika  siswa aktif bertanya saja mengenai pertanyaan berantai dari guru








Skor 2 jika siswa bertanya dan menjawab pertanyaan hanya jika ditunjuk oleh guru








Skor 1 jika siswa bingung dan hanya mendengarkan guru menyampaikan pertanyaan








Siswa merumuskan masalah yang dipecahkan
Skor 4 jika siswa merumuskan masalah yang dipecahkan dengan bertanya kepada guru, membaca buku/LKPD dan berdiskusi bersama dengan anggota kelompoknya (4 item)









Skor 3 jika  siswa merumuskan masalah yang dipecahkan dengan bertanya kepada guru, membaca buku/ LKPD (3 item)








Skor 2 jika siswa merumuskan masalah yang dipecahkan dengan membaca buku/LKPD dan berdiskusi dengan anggota kelompoknya (2 item)








Skor 1 jika siswa merumuskan masalah yang dipecahkan hanya berdasarkan pemikirannya sendiri








3










Merumuskan Hipotesis


















Siswa mencari tahu dan berdiskusi kemungkinan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan
Skor 4 jika siswa mencari tahu melalui buku dan LKPD serta berdiskusi kemungkinan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan dengan baik (3 item)









Skor 3 jika  siswa mencari tahu kemungkinan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan melalui LKPD dan berdiskusi (2 item)








Skor 2 jika siswa hanya mencari tahu kemungkinan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan  dengan berdiskusi (1 item)








Skor 1 jika siswa hanya mencari tahu kemungkinan jawaban dari permasalahan yang dirumuskan berdasarkan pemikirannya sendiri








Siswa aktif mengemukakan gagasan yang dimilikinya





Skor 4 jika siswa aktif mengemukakan gagasan yang dimilikinya kepada guru dan anggota kelompok lain









Skor 3 jika  siswa mengemukakan gagasan yang dimilikinya kepada guru dan anggota kelompoknya sendiri








Skor 2 jika siswa mengemukakan gagasan yang dimilikinya kepada anggota kelompoknya sendiri








Skor 1 jika siswa membutuhkan dorongan dari guru untuk mengemukakan gagasan yang dimilikinya








4


















Mengumpulkan Data

















Siswa melakukan praktikum guna mengumpulkan informasi/ fakta yang berkaitan dengan permasalahan
Skor 4 jika siswa melakukan praktikum sesuai prosedur dan didukung dengan teori yang dikumpulkan dari buku dan LKPD









Skor 3 jika siswa melakukan praktikum sesuai dengan prosedur dan didukung dengan teori yang bersumber dari LKPD saja








Skor 2 jika siswa melakukan praktikum sesuai dengan prosedur namun belum dilengkapi teori








Skor 1 jika siswa melakukan praktikum namun tidak sesuai dengan prosedur dan tidak  didukung dengan teori pendukung








Siswa bekerja efektif dan efisien selama praktikum dan diskusi kelompok
Skor 4 jika siswa menyelesaikan praktikum tepat waktu serta bekerjasama dengan baik









Skor 3 jika  siswa menyelesaikan praktikum tepat waktu namun kerjasama kelompok belum maksimal








Skor 2 jika siswa menyelesaikan praktikum tidak tepat waktu namun bekerjasama dengan baik








Skor 1 jika siswa tidak menyelesaikan praktikum tepat waktu dan tidak bekerjasama dengan baik








Siswa mengerjakan LKPD yang diberikan guru
Skor 4 jika siswa tekun mengerjakan LKPD dengan berdiskusi dan membaca buku









Skor 3 jika  siswa mengerjakan LKPD dengan berdiskusi saja








Skor 2 jika siswa mengerjakan LKPD dengan membaca buku saja








Skor 1 jika siswa mengerjakan LKPD hanya berdasarkan pemikirannya sendiri








5






Menguji Hipotesis





Siswa menganalisis kecocokan masalah dan pemecahan masalah yang dipilih sesuai dengan hasil pengumpulan data pendukung
Skor 4 jika siswa dapat mencocokan masalah dan pilihan pemecahan masalah sesuai dengan hasil praktikum dan teori









Skor 3 jika  siswa dapat mencocokan masalah dan pilihan pemecahan masalah berdasarkan teori namun  hasil praktikum tidak mendukung








Skor 2 jika siswa belum dapat mencocokan masalah dan pilihan pemecahan masalah dengan baik sesuai hasil praktikum dan teori








Skor 1 jika siswa tidak dapat mencocokan masalah dan pilihan pemecahan masalah sesuai dengan hasil praktikum dan teori








Siswa membandingkan hasil praktikum, jawaban sementara LKPD dan data prndukung yang dikumpulkan
Skor 4 jika siswa dapat membandingkan hasil praktikum, jawaban sementara LKPD dan data yang dikumpulkan dengan tepat









Skor 3 jika  siswa dapat membandingkan hasil praktikum, jawaban sementara LKPD namun  data yang dikumpulkan belum tepat








Skor 2 jika siswa dapat membandingkan hasil praktikum dan jawaban LKPD saja








Skor 1 jika siswa bingung dalam membandingkan hasil praktikum, jawaban LKPD dan data yang dikumpulkan








6








Merumuskan kesimpulan







Siswa mempresentasikan hasil praktikum dan pemecahan masalah serta kaitannya dengan konsep indikator asam dan basa

Skor 4 jika siswa dapat mem1`1presentasikan kesimpulan sesuai dengan indikator pencapaian secara singkat, tepat dan sistematis









Skor 3 jika  siswa dapat mempresentasikan kesimpulan sesuai dengan indikator pencapaian secara  singkat, tepat namun belum sistematis








Skor 2 jika siswa dapat mempresentasikan kesimpulan sesuai dengan indikator pencapaian namun belum tepat dan  belum sistematis








Skor 1 jika siswa mempresentasikan kesimpulan tidak sesuai dengan indikator pencapaian serta tidak sistematis










Siswa menyimpulkan sendiri hasil praktikum dan hasil diskusi
Skor 4 jika siswa menyampaikan pengalaman selama menyelesaikan praktikum dengan tegas, membuat kesimpulan sendiri dan memberikan saran









Skor 3 jika  siswa  menyampaikan pengalaman selama menyelesaikan praktikum dengan tegas namun tidak memberikan saran








Skor 2 jika siswa menyampaikan kesimpulan yang dibuatnya sendiri








Skor 1 jika siswa tidak menyampaikan pengalaman selama menyelesaikan praktikum dan tidak menyimpulkan hasil pembelajaran









PERMASALAHAN :
1.  Menurut Arikunto, penilaian dalam bentuk pilihan ganda, lebih representative mewakili isi dan luas bahan atau materi. Selain itu, dalam proses pemeriksaan dapat terhindar dari unsur-unsur subjektivitas. Namun demikian, penggunaan penilaian model ini, cenderung mengungkapkan daya pengenalan kembali dan banyak memberi peluang tebakan. Hasil yang diperoleh pun dapat berbeda dengan kondisi siswa yang sesungguhnya. Bagaimana cara Anda sebagai research to be mengatasi peluang tebakan dari soal pilhan ganda yang diberikan untuk menilai proses keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan tes?

2. Keterampilan proses sains adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. apakah anda setuju dengan pernyataan ini? bagaimana tanggapan anda? apakah dengan penilaian tes soal pilihan ganda atau essay tidak akan terlihat keterampilan proses sains siswa? 

3. Menurut Anda, mnggunakan rubrik atau instrumen penilaian yang seperti apakah keterampilan proses sains bisa dinilai secara keseluruhan? berikan penjelasan anda

Comments

  1. menanggapi permasalahan tentang bagaimana cara Anda sebagai research to be mengatasi peluang tebakan dari soal pilhan ganda yang diberikan untuk menilai proses keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan tes?
    cara yang dapat kita lakukan adalah dengan meminta siswa untuk menuliskan data dan alasan yang tepat sesuai dengan pilihan jawabannya. Hal ini diperkuat oleh pola argumentasi Toulmin (PAT)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sependapat dengan kak nelly, salah satu caranya dengan menuliskan alasan singkat dalam menjawab pertanyaaan nya. selain itu bisa dengan membuat pilihan jawaban semirip mungkin dan pilihan jawaban seteliti mungkin. sehingga tidak bisa ditebak

      Delete
  2. 3. Menurut Anda, mnggunakan rubrik atau instrumen penilaian yang seperti apakah keterampilan proses sains bisa dinilai secara keseluruhan? berikan penjelasan anda
    lembar polio/LKPD, karena dengan menggunakan instrumen tersebut bakal ketahuan pemahamana mereka terkait dengan pengetahuan sebelum dan sesudh dilakukan perlakuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menambah sedikit, menurut saya bisa juga dengan menggunakan instrumen lembar observasi ataupun instrumen tes

      Delete
  3. Keterampilan proses sains adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. apakah anda setuju dengan pernyataan ini? bagaimana tanggapan anda? apakah dengan penilaian tes soal pilihan ganda atau essay tidak akan terlihat keterampilan proses sains siswa?
    menurut saya keterampilan proses sains bisa dinilai dari penilaian tes soal baik uraian maupun pilgan. namun, sebelumnya siswa harus terlebih dahulu melakukan eksperimen sehingga saat menjawab soal siswa bisa memprediksi bagaimana menjawab soal tsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju dengan kk rina. Bahwa keterampilan proses sains ini tidak hanya melalui praktikum melalui diskusi kelompok juga bisa dan saat soal tes essay juga bisa. Diskusi kelompok dengan mencari jawaban atas masalah yg di kasih oleh guru. Sudah memunculkan keterampilan proses siswa itu sendiri. Jadi tidak harus melalui praktikum

      Delete
    2. saya setuju dengan rina dan dian bahwa untuk menilai proses keterampilan proses sains tidak hanya pada saat pratikum saja, karena dengan cara lain seperti diskusi siswa dapat memunculkan indikator-indikator dalam penilaian proses sains siswa.

      Delete
  4. 3. Menurut Anda, mnggunakan rubrik atau instrumen penilaian yang seperti apakah keterampilan proses sains bisa dinilai secara keseluruhan? berikan penjelasan anda?
    Menurut saya menggunakan lembar observasi bisa menilai KPS diseluruh aspek, namun instrumen tes pun bisa juga untuk menggambarkan kemampuan siswa, dan tergantung ingin sedetail apa guru / peneliti ingin menilai

    ReplyDelete
  5. menjawab pertanyaan melda, Keterampilan proses sains adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. apakah anda setuju dengan pernyataan ini? bagaimana tanggapan anda? apakah dengan penilaian tes soal pilihan ganda atau essay tidak akan terlihat keterampilan proses sains siswa?

    saya sependapat dengan pernyataan bahwa proses menilai KPS adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. karena pada saat praktikum keseluruhan aspek/indikator yang dimiliki KPS kemungkinan munculnya 90%, sehingga akan menjadi satu kesatuan utuh penilaian KPS. jika melalui pembelajaran biasa/model pembelajaran yang tidak berbasis praktikum, maka kemungkinan tiap aspek/indikator dari KPS tidak muncul akan semakin besar. maka dari itu sebaiknya untuk menilai KPS guru menggunakan model pembelajaran berbasis praktikum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sependapat dengan kak rini mengenai pertanyaan Keterampilan proses sains adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. apakah anda setuju dengan pernyataan ini? bagaimana tanggapan anda? saya juga sependapat dengan pernyataan ini tyang mana bahwa proses menilai KPS adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. pada saat praktikum keseluruhan aspek/indikator yang dimiliki KPS berpotensi kemungkinan munculnya sangat besar sehingga akan menjadi satu kesatuan utuh dalam penilaian KPS tersebut.

      Delete
  6. Keterampilan proses sains adalah menilai proses dari yang dilakukan siswa saat praktikum. apakah anda setuju dengan pernyataan ini?
    tidak.

    bagaimana tanggapan anda?
    kps tidak harus berkenaan dengan prktikum, banyak aspek yg lain yang dapat dinilai berkenaan dengan KPS

    apakah dengan penilaian tes soal pilihan ganda atau essay tidak akan terlihat keterampilan proses sains siswa?
    tes esai dapat menggambarkan KPS jika pertanyaan mengarah kepada pertanyaan yang terbuka tidak tertutup.

    ReplyDelete
  7. cara yang dapat kita lakukan adalah dengan meminta siswa untuk menuliskan data dan alasan yang tepat sesuai dengan pilihan jawabannya. Hal ini diperkuat oleh pola argumentasi Toulmin (PAT),

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MATERI 7 : RUBRIK PENILAIAN KREATIVITAS (BERPIKIR KREATIF)

MATERI 5 : RUBRIK PENILAIAN ASPEK AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR

MATERI 6 : PENYUSUNAN RUBRIK PENILAIAN ARGUMENTASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA